Puasa Senin Dan Kamis: Sebuah Telaah Ma’anil Hadith

  • Ahmad Karomi Sekolah Tinggi Agama Islam –Badrussholeh Purwoasri Kediri

Abstract

Di abad dua puluh ini masih banyak manusia yang melakukan puasa dengan berbagai motif dan dorongan. Puasa dalam arti menahan dengan niat ibadah, menahan nafsu dari hal-hal yang disukai berupa makanan, minuman, bersetubuh, dan menahan dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala dalam berpuasa, sejak terbitnya fajar kedua sampai terbenamnya matahari dengan mengharap ridha Allah SWT. Puasa dilakukan antara lain dengan tujuan untuk memelihara kesehatan, pengendalian diri, dan untuk memperoleh taqwa, tujuan tersebut bisa dicapai dengan menghayati arti puasa itu sendiri. Beberapa puasa sunnah yang amat digemari dan dilestarikan oleh masyarakat khususnya di Indonesia adalah puasa Senin dan Kamis. Kebanyakan mereka beralasan bahwa puasa Senin dan Kamis mempunyai beberapa keistimewaan (fadlail) berupa pahala dan hikmah, terlebih puasa Senin. Namun apakah hanya berupa pahala itukah keistimewaannya? Oleh karena itu, tulisan ini lebih menitikberatkan kepada dua puasa sunnah tersebut dalam kajian maanil hadith. Sebab terdapat beberapa perbedaan redaksi yang semestinya perlu dikaji lebih mendalam. Terlebih, puasa hari Senin memiliki nilai historis tersendiri yang akan penulis kemukakan.

References

Al-Turmudzi, ‘Isa Sunan Al-Turmudzi, Juz 3, Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, 1995.
Al-Khatib, Ajjaj Ushul Al-Had?th Ulumuhu wa Mushthalahuhu, Beirut: Darul-Fikr, 2006.
Al-Jazairi, Abu Bakr Jabir., Ensiklopedi Muslim, terj: Fadhli Bahri, Jakarta Timur: PT. Darul Falah, 2006.
Al-Taftazani, Sa’duddin, Syuruh Al-Talkhish, vol. 1, Lebanon: D?r al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
Abdullah At-Tuwaijiri, Muhammad bin Ibrahim bin, Ensiklopedi Islam Al-Kamil, terj: Achmad Munir Badjeber, Jakarta Timur: Darus Sunnah Press, 2009.
Abu Daud Al-Sijistani, Sunan Abi Daud, Juz. 2, Beirut: Dar Ibnu Hazm, 1997.
Al-Hajjaj, Abu Al-Husain Muslim ibn, Shahih Muslim, Riyadh: Dar Al-Mugni, 1998.
Al-Hanafi Al-Damsyiqi, Ibnu Hamzah Al-Husaini, Asbabul Wurud, Juz. 2, terj: M. Suwarta Wijaya, Jakarta: Kalam Mulia, 2002.
Ghozali S, Ahmad, Keajaiban Puasa Sunnah, Yogyakarta: Genius, 2009.
Ichwan, Mohammad Nor, Studi Ilmu Had?ts, Semarang: Rasail, 2007.
Ismail, M. Syuhudi, Had?s Nabi Menurut Pembela, Pengingkar dan Pemalsunya, Jakarta: Gema Insani Press, 1995.
Masykur, Muhammad Syafi’I, Dahsyatnya Puasa Senin Kamis, Yogyakarta: Andromeda Publishing, 2009.
Musahadi Ham, Evolusi Konsep Sunnah, Semarang: Aneka Ilmu, 2000.
Suyadi, Keajaiban Puasa Senin dan Kamis , Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2009.
Suryadilaga, M. Alfatih, Aplikasi Penelitian Had?ts dari Teks ke Konteks Yogyakarta:Teras, 2009.
Shihab, M. Quraish, Membumikan al-Qur’an, Fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan masyarakat, Bandung: Mizan Media Utama, 2003.
Qardhawi, Yusuf, Bagaimana Memahami Had?ts Nabi SAW, terj Muhammad Al-Baqir, Bandung: Karisma, 1994.
Wensich A.J. Mu’jam al-Mufahras li al-F?zh al-Had?s, vol. 7, Lieden: E.J. Brill, 1943.
Zuhri, Muh., Had?ts Nabi Telaah Historis dan Metodologis (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997.
Published
2018-12-27
How to Cite
Karomi, A. (2018). Legitima: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 1(1), 78-95. https://doi.org/10.33367/legitima.v1i1.645