Penanggulangan Nikah Sirri Di Kota Samarinda

Peranan Tokoh Agama Dengan Konsep Sadd Adz-Dzari’ah

  • Mohammad Syahrul Wardana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda
Keywords: Nikah Sirri, Tokoh Agama, Sadd al-dzari’ah

Abstract

Pernikahan sirri merupakan pernikahan yang hanya memenuhi syarat dan rukun dalam agama Islam dan tidak dicatatkan dalam Kantor Urusan Agama (KUA) yang dapat menimbulkan dampak terabaikannya hak anak dan istri, sehingga berdasarkan Fatwa MUI Tahun 2008 menetapkan bahwa nikah sirri dinyatakan haram. Terlebih lagi, dengan melihat angka nikah sirri yang masih terbilang tinggi di Kota Samarinda dalam laporan tahunan Pengadilan Agama Samarinda pada tahun 2016-2020. Adapun penelitian ini merupakan penelitian yuridis empiris yang menggunakan fakta di lapangan, data nikah sirri di Pengadilan Agama Samarinda, fatwa MUI dan pendapat para ulama. Sehingga dapat diketahui bagaimana sikap serta perannya terhadap nikah sirri. Hasil penelitian ini adalah, Pertama, data nikah sirri yang didapatkan dari Pengadilan Agama Samarinda pada tahun 2016-2020 telah terdaftar sebanyak 944 perkara pengajuan isbat nikah. Para tokoh agama sebagian besar memaknai nikah sirri yang hukumnya hanya sah secara agama namun tidak sah secara negara. Kedua, para tokoh agama yang menyadari bahwa sejatinya tidak memiliki hak dan kewajiban yang diberikan pemimpin negara, sepakat untuk menolak menikahkan masyarakat secara sirri dan melakukan edukasi guna memberikan pengetahuan mengenai dampak nikah sirri yang dapat mendzolimi istri dan anaknya dikemudian hari.

References

Al-Asy’ari, Abu Mansur. Hukum Nikah Siri. Yogyakarta: CV Budi Utama, 2019.

Ali, Zainuddin. Hukum Perdata Islam Di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika, 2006.

Anshari, Ustadz Zaidan. Pernikahan Sirri, 2021.

Ar-Razi, Muhammad Ibn Abu Bakar. Mukhtar Ash-Shihah. Kairo: Dar Salam, 2000.

Azam, Ustadz Abu. Pernikahan Sirri, 2021.

Djubaidah, Neng. Pencatatan Perkawinan Dan Perkawinan Tidak Dicatat Menurut Hukum Tertulis Di Indonesia Dan Hukum Islam. Jakarta: Sinar Grafika, 2010.

Fauzi, Dodi Ahmad. Nikah Sirri Yes or No. Jakarta: Lintas Pustaka, 2008.

Hadi, Sutrisno. Metodologi Riset. Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2015.

Hanifah, Ustadz Aslam Abu. Pernikahan Sirri, 2021.

Harun, Nasruni. Ushul Fiqh II. Jakarta: Logos, 1996.

Hutomo, Dimas. “Apakah Nikah Sirri Bisa Dijerat Pasal Perzinahan.” Hukum Online (blog). Accessed July 15, 2021. https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5afd7b0bcf533/apakah-nikah-siri-bisa-dijerat-pasal-perzinahan.

Indonesia, Majelis Ulama. Fatwa Nikah Dibawah Tangan. Jakarta: MUI, 2008.

Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Quran Terjemah. Bekasi: Cipta Bagus Segara, 2012.

Mudakir, Kharis. “Nikah Sirri Menurut Pandangan Tokoh Nahdatul Ulama, Muhammadiyyah, Dan Hizbut Tahrir Indonesia Di Yogyakarta.” Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2015.

Paraga, Sukardi. “Nikah Sirri (Perpektif Hukum Islam Kontemporer).” Jurnal PENDAIS 1, no. 2 (2019).

Rokhim, Abdul. “Perspektif Yuridis Pertimbangan Putusan Pengadilan Terhadap Isbat Nikah Di Pengadilan Agama.” Disertasi, Universitas 17 Agustus 1945, 2011.

Sunggono, Bambang. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.

Susanto, Ustadz. Pernikahan Sirri, 2021.

Syarifudin, Amir. Ushul Fiqh. Vol. III. Jakarta: Kencana, 2008.

Wasian, Abdullah. “Akibat Hukum Perkawinan Sirri (Tidak Dicatatkan) Terhadap Kedudukan Istri, Anak Dan Harta Kekayaannya Tinjaun Hukum Islam Dan Undang-Undang Perkawinan.” Universitas Diponegoro Semarang, 2010.

Zubair, Ismail. “Persepsi Terhadap Nikah Sirri (Kasus Masyarakat Desa Sinarrancang, Mundu, Cirebon).” Jurnal Analisa 1, no. XVIII (2011). https://doi.org/10.18784/analisa.v18i1.125.

Published
2022-01-04
How to Cite
Wardana, M. S. (2022). Penanggulangan Nikah Sirri Di Kota Samarinda: Peranan Tokoh Agama Dengan Konsep Sadd Adz-Dzari’ah . Legitima : Jurnal Hukum Keluarga Islam, 4(1), 51-67. https://doi.org/10.33367/legitima.v4i1.2145