MENDIDIK ANAK SUPERNORMAL DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM

Manusia yang berkualitas adalah manusia yang berkembang optimal baik secara fisik, kognitif, emosi, sosial maupun spiritual. Secara tidak sadar bangsa Indonesia memiliki bibit-bibit unggul yang dapat dijadikan sumber daya manusia berkualitas. Bibit unggul tersebut yaitu anak yang memiliki kecerdasan lebih tinggi atau bisa disebut dengan anak supernormal. Keunggulan-keunggulan yang dimiliki anak supernormal penting untuk dikembangkan dan dibimbing. Karena anak yang memiliki kecerdasan lebih laksana tanaman yang membutuhkan seseorang yang dapat membimbing dan membantunya agar berkembang secara alamiah, menghilangkan berbagai kendala yang ada dihadapannya, serta merintis jalan baginya. Mereka pun membutuhkan seseorang yang dapat memahami serta menghargai kelebihannya. Upaya membimbing dan mendidik anak supernormal supaya menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki masa depan yang cerah akan berhasil apabila didukung oleh orang tua dan masyarakat. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting, karena orang tualah yang menemukan beberapa karakteristik anak pada usia yang sangat dini. Disamping orang tua, lingkungan masyarakat juga mempunyai peran yang sangat besar. Karena di lingkungan masyarakatlah mereka berkembang yang dapat mempengaruhi baik buruknya anak. Dalam konteks Pendidikan Islam sikap Islam terhadap pendidikan anak terpantul dari karakteristiknya yang suci atau fitroh dengan melihat dan menghormati potensi manusia sebagai potensi yang utuh tidak sepotong-potong. Proses pendidikan Islam pada dasarnya membantu mengembangkan potensi yang dimiliki anak agar berkembang secara optimal, sehingga anak mampu melaksanakan tugas-tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Pendidikan Islam tidak lain bertujuan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan yang ada dalam diri si anak didik baik spiritual, emosi, komunikasi, kecerdasan, sosial dan kepercayaan dirinya

  • Yasin Nur Falah

Abstract

Manusia yang berkualitas adalah manusia yang berkembang optimal baik secara fisik, kognitif, emosi, sosial maupun spiritual. Secara tidak sadar bangsa Indonesia memiliki bibit-bibit unggul yang dapat dijadikan sumber daya manusia  berkualitas. Bibit unggul tersebut yaitu anak yang memiliki kecerdasan lebih tinggi atau bisa disebut dengan anak supernormal. Keunggulan-keunggulan yang dimiliki anak supernormal penting untuk dikembangkan dan dibimbing. Karena anak yang memiliki kecerdasan lebih laksana tanaman yang membutuhkan seseorang yang dapat membimbing dan membantunya agar berkembang secara alamiah, menghilangkan berbagai kendala yang ada dihadapannya, serta merintis jalan baginya. Mereka pun membutuhkan seseorang yang dapat memahami serta menghargai kelebihannya.  Upaya membimbing dan mendidik anak supernormal supaya menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki masa depan yang cerah akan berhasil apabila didukung oleh orang tua dan masyarakat. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting, karena orang tualah yang menemukan beberapa karakteristik anak pada usia yang sangat dini. Disamping orang tua, lingkungan masyarakat juga mempunyai peran yang sangat besar. Karena di lingkungan masyarakatlah mereka berkembang yang dapat mempengaruhi baik buruknya anak. Dalam konteks Pendidikan Islam sikap Islam terhadap pendidikan anak terpantul dari karakteristiknya yang suci atau fitroh dengan melihat dan menghormati potensi manusia sebagai potensi yang utuh tidak sepotong-potong. Proses pendidikan Islam pada dasarnya membantu mengembangkan potensi yang dimiliki anak agar berkembang secara optimal, sehingga anak mampu melaksanakan tugas-tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Pendidikan Islam tidak lain bertujuan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan yang ada dalam diri si anak didik baik spiritual, emosi, komunikasi, kecerdasan, sosial dan kepercayaan dirinya

Downloads

Download data is not yet available.
Published
2017-12-21
How to Cite
FALAH, Yasin Nur. MENDIDIK ANAK SUPERNORMAL DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM. Jurnal Pemikiran Keislaman, [S.l.], v. 28, n. 2, p. 217-245, dec. 2017. Available at: <http://ejournal.iai-tribakti.ac.id/index.php/tribakti/article/view/482>. Date accessed: 19 oct. 2018.